Senin, 01 Oktober 2012

7 UJIAN DALAM SEBUAH PERNIKAHAN


Layaknya air laut , dalam sebuah pernikahan atau rumah tangga juga terjadi pasang surut. Dalam perjalanan sebuah pernikahan terkadang muncul ujian-ujian untuk menguji kekuatan cinta sepasang suami istri. Setiap ujian yang terjadi selalu memberikan perubahan dalam kehidupan pernikahan, tergantung pada bagaimana sepasang suami istri menghadapi ujian tersebut.

Ujian, atau momen transisi yang terjadi dalam pernikahan tidak hanya muncul karena peristiwa menyedihkan tapi juga bisa muncul karena peristiwa yang membahagiakan seperti kelahiran anak pertama. Berikut ini tujuh ujian yang biasa terjadi dalam pernikahan.

1.Kelahiran Anak Pertama. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menyambut kelahiran anak pertama. Namun kehadiran seorang bayi kecil selalu memberikan perubahan atau transisi besar dalam kehidupan pernikahan. Saat anak pertama lahir, perhatian seorang istri pasti lebih banyak pada anak. Untuk menghadapi hal itu, seorang suami harus bisa bijak membagi waktu agar hubungan suami istri tetap terjaga dengan baik tanpa terganggu kehadiran seorang anak. Tidak perlu memaksa meluangkan waktu di akhir pekan untuk berdua, cukup 10 menit setelah anak tidur di malam hari bisa membantu hubungan suami istri tetap terjaga dengan baik.

2.Salah Satu Kehilangan Pekerjaan. Bagi pasangan yang masing-masing bekerja, kehilangan pekerjaan tentu adalah suatu hal yang sangat mengganggu. Dalam hal ini keseimbangan kehidupan keluarga, entah dari pihak suami atau istri. Untuk mengatasi hal ini, komunikasi adalah jalan terbaik. Hindari menyarankan pekerjaan kecuali pasangan memintanya. Diskusi bersama mengenai pengeluaran rumah tangga bisa sangat membantu di saat masa-masa sulit ini.

3.Salah Satu Merawat Orang Tua. Merawat orang tua adalah salah satu kewajiban. Apalagi saat orang tua mulai beranjak senja dan sakit. Kehadiran orang tua tentu membuat sedikit perhatian pada pasangan berkurang. Untuk menghindari hal itu terjadi, anda harus membuat pasangan anda menjadi prioritas utama. Selalu mengajak mengobrol dan berdiskusi dengan pasangan bisa membantu anda memecahkan masalah yang berhubungan dengan orang tua.

4.Kehilangan Orang Tua. Saat pasangan kehilangan orang tua, berikan waktu untuknya berduka. Selain itu jangan lupa untuk memberikan perhatian. Walaupun pasangan anda sudah terlihat “normal”dan kembali bekerja bukan berarti kesedihan itu telah hilang. Jangan ragu untuk mengajaknya untuk mengobrol dan menanyakan keadaannya. Itu bisa membantunya melewati rasa kehilangan.

5.Salah Satu Sakit. Saat pasangan kita sakit, kita tentu merasakan kekhawatiran. Saat pasangan sakit jangan sampai salah satu kehilangan rasa intim dan dukungan yang selama ini didapatkan. Ingat, saat yang satu menderita, yang lain juga turut merasakan. Tidak ada salahnya berbicara mengenai perasaan yang dirasakan, hal itu bisa membuat rasa saling mendukung terus ada.

6.Salah Satu Berselingkuh. Ini merupakan salah satu ujian terberat dalam sebuah pernikahan. Jika anda memutuskan untuk terus bersama, ingatlah kalau masa untuk memperbaiki sakit hati dan membangun kembali kepercayaan pada pasangan membutuhkan waktu lama. Terkadang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat pasangan melupakan kejadian tersebut. Anda bisa meminta bantuan kepada konsultan perkawinan untuk membantu mengatasi hal tersebut.

7.Anak Anda Meninggalkan Rumah. Waktu berlalu, dan anak-anak anda telah tumbuh besar sampai tiba waktunya ia untuk meninggalkan rumah, baik untuk kuliah di lain kota atau menikah. Sama seperti saat anak pertama lahir, pada momen ini sepasang suami istri harus bisa kembali saling mengenal. Pasangan anda tentu tidak sama seperti pada hari pernikahan anda. Bicarakan dengan pasangan hal apa yang bisa dilakukan berdua, atau hanya dilakukan sendirian. Saat sendirian, anda dan pasangan mungkin akan menemukan suatu hal yang membuat anda merasa saling membutuhkan satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar